Kekhawatiran Ulama Sepuh NU Dahulu Terbukti Tentang Kondisi NU Saat Ini

Ramadlan NU ::: Kekhawatiran Ulama Sepuh NU Dahulu Terbukti Tentang Kondisi NU Saat Ini
Banyaknya saling tikai dalam NU, banyak yang membela orang atau kelompok yang salah yang dilakukan tokoh NU atau pengurus NU sebenarnya sudah ditakuti oleh Ulama sepuh NU sendiri.

Sebenarnya hal ini bukan hanya dikhawatirkan oleh satu ulama sepuh NU, namun banyak sekali ulama NU yang mengkhawatirkan tentang bagaimana NU kedepannya setelah masa banyaknya dan besarnya Nahdlatul Ulama.
Namun pada kesempatan kali ini saya akan membagikan salah satu contoh penjelasannya dengan video dibawah ini:
Monggo kita perbaiki NU
Jangan sampai Nahdlatul Ulama Rusak, baik dirusak oleh mereka yang mencari dunia dengan menggunakan Nahdlatul Ulama, atau dari orang orang yang berpaham liberal, plural dll yang sengaja menyusup kedalam Nahdlatul Ulama.

***
Kekhawatiran Ulama dahulu terbukti tentang kondisi NU saat ini by Gus Qoyyum
KH. Abdul Qoyyum Mansur atau Gus Qoyyum, Pejuang Islam, Nahdlatul Ulama, Khilafah, Muhamadiyah, Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, Ustadz Abdul Somad, Lc., MA, Imam Bukhari, Islam Harga Mati, Imam Syafi'i, Khilafah Ajaran Islam, Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khattab, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, Ahmad, Bilal bin Rabah, Abdullah bin Abbas, Abdurrahman bin Auf, Khalifah, Larangan Pemimpin Kafir, Ka'bah, Islam Kaffah, Syiah, Ajarab Sesat, Yahudi, Turki Usmani, Palestina, Yufid, Salafi, Wahabi

Pidato Ulama NU yang Menampar Banser

Ramadlan NU ::: Pidato Ulama NU yang Menampar Banser
Share kali ini saya beri judul Pidato Ulama NU Yang Menampar Banser (Barisan Serba Guna) yang kemarin diplesetkan menjadi Banserep.

Banser ini memang sudah sangat tidak baik namanya, sudah sangat tercemar, jangankan buat orang orang diluar NU, orang orang NU sendiri bahkan banyak ulama NU yang geram dengan banser dan anshor. salah satunya bahkan viral, yaitu salah satu pidato kiai mudah berikut ini:

Sekarang banser dan anshor kembali lagi membuat sejarah jelek dengan membela Muwafiq yang sudah jelas jelas menghina dan melcehkan Nabi Muhammad SAW.

Apa yang Sudah Kita Persiapkan untuk Ramadlan? CR Bulan Ramadlan

Ramadlan NU ::: Apa yang Sudah Kita Persiapkan untuk Ramadlan? CR Bulan Ramadlan
Khuthbah Bulan Ramadlan Dengan Tema "Apa yang Sudah Kita Persiapkan untuk Ramadlan?"
Khuthbah Jum'at Untuk Dibacakan Pada Bulan Ramadlan Dengan Topik "Apa yang Sudah Kita Persiapkan untuk Ramadlan?"

Apa yang Sudah Kita Persiapkan untuk Ramadlan? Persembahan CR Bulan Ramadlan.


لحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانَ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلَ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ
فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Jauh-jauh hari ummat Islam menunggu datangnya bulan suci Ramadlan. Bahkan Rasulullah sendiri memberikan teladan doa yang dilantukan sejak bulan Rajab. Doa tersebut berbunyi:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.”

Kerinduan orang terhadap Ramadlan adalah hal yang wajar, karena di bulan suci itulah berbagai karunia agung dilimpahkan, yang tidak kita temukan di bulan-bulan lainnya. dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dikatakan:

 إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ ، وَفُتِحَتْ أَبُوَابُ الجَّنَةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ

Artinya: “Ketika masuk bulan Ramadlan maka setan-setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup.”

Hadits ini bisa kita maknai secara haqiqi (harfiah), bisa pula kita maknai secara majazi (metaforis). Secara metaforis, hadits tersebut ingin menunjukkan bahwa jalan menuju kebaikan di bulan Ramadlan sangatlah mudah. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa sepertiga pertama Ramadlan adalah rahmah (kasish sayang), sepertiga kedua adalah maghfirah (ampunan), dan sepertiga terakhir adalah pembebasan dari api neraka. Belum lagi pelipatgandaan pahala kebaikan dan keutaman-keutamaan lain, seperti Lailatul Qadar yang merupakan malam ibadah yang setara dengan seribu bulan.

Dengan bahasa lain, Allah telah membukakan pintu kebaikan seluas-luasnya di bulan Ramadlan dengan berbagai keistimewaan. Ini adalah iming-iming yang menggiurkan bagi mereka yang mengimani pahala dan kehidupan akhirat. Di sisi lain, orang yang berpuasa dituntut untuk sanggup mengekang dirinya sendiri, baik secara fisik maupun batin, baik dari makan dan minum maupun perbuatan maksiat. Inilah makna “setan terbelenggu” secara majazi, di mana orang yang berpuasa disediakan fasilitas khusus agar mudah menghindari dosa dan meraih pahala.

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Lantas apa yang mesti kita siapkan dalam rangka menyambut bulan suci itu? Umumnya kita lihat tiap menjelang Ramadlan pasar-pasar menjadi kian ramai dan pusat-pusat perbelanjaan kita sesak. Orang-orang dengan antusias mempersiapkan diri menyambut peralihan kebiasaan baru selama sebulan, yakni tidak makan dan minum pada siang hari. Mereka berbelanja sejumlah bahan makanan khusus karena ingin mendapat kesan berbuka atau makan sahur yang terbaik. Begitu pula persiapan biasanya juga ada pada segi busana atau perlengkapan ibadah.

Namun demikian, mesti kita catat bahwa berbagai persiapan tersebut baru sebatas level persiapan fisik. Seluruhnya disediakan untuk memaksimalkan diri menjalankan ibadah Ramadlan lebih nyaman, tenang, dan intensif selama satu bulan. Yang paling penting dari semuan itu adalah persiapan dari segi batin. Yang disebutkan terakhir ini membutuhkan kemantapan hati yang bulat, tekad pribadi kuat, dan penataan niat yang benar-benar lurus.

Ibarat sebuah perjalanan, Ramadlan adalah perjalanan jauh. Puasa di dalamnya berbeda dari puasa-puasa pada hari biasa. Nilai penting dari bulan suci ini berlipat-lipat. Puasa pada bulan Ramadlan bestatus wajib bagi seluruh umat Islam yang baligh dan berakal. Apresiasi Allah bagi orang-orang yang menjalankan ibadah pun tergolong sangat spesial. Dengan demikian, menuju Ramadlan membutuhkan perbekalan yang cukup agar selama “perjalanan” selama satu bulan berlangsung dengan lancar, tanpa hambatan.

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Sebagai sebuah perjalanan, Ramadlan tentu punya arah dan tujuan yang jelas. Tujuan tersebut secara tegas disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Dari ayat ini jelas bahwa tujuan berpuasa adalah agar kita bertakwa. Takwa sejatinya adalah kewajiban. Al-Qur’an memerintahkan bahwa kita wajib bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan memperingatkan secara keras agar tidak mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Jika takwa dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 menjadi tujuan berpuasa, maka puasa Ramadlan tidak lain adalah sebuah perjalanan mencapai tujuan tersebut. Sebagaimana kita tahu, tak semua perjalanan berlangsung mulus. Akibat godaan-godaan tertentu, seorang penempuh perjalanan bisa saja tidak sampai tujuan sebenarnya. Entah karena bingung arah, tujuan yang bercabang-cabang, atau hambatan-habatan lain yang membuat kita tidak fokus pada tujuan. Begitu pula ketika kita berpuasa. Tidak otomatis shaim (orang yang berpuasa) selalu pasti menjadi muttaqin (orang yang bertakwa). Karena, meski tidak dapat dipisahkan satu sama lain, puasa dan takwa adalah dua hal yang berbeda: yang satunya adalah perjalanan dan satunya lagi adalah tujuan.

Takwa bisa dimaknai sebagai kesadaran ilahiah, di mana manusia menyadari penuh akan kehadiran Allah dalam setiap ruang dan waktu. Takwa antara lain berefek pada kian ditaatinya seluruh perintah Allah dan dijauhinya segala larangan-larangan-Nya.

Lalu apa indikator takwa? Al-Qur’an salah satunya menyebut ciri orang bertakwa adalah:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Yaitu orang-orang yang berinfak di saat senang dan susah, orang-orang yang menahan amarah, dan orang-orang yang memberi maaf kepada orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Al-Maidah: 134)

Orang yang bertakwa berarti pula orang yang memiliki hati yang lembut, tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak pula orang-orang yang sombong. Hal tersebut kemudian mengejawantah dalam perilaku suka memberi pertolongan kepada orang lain, mudah memaafkan, dan mampu berpikir jernih dan rasional—tidak emosional.

Orang yang bartakwa juga dicirikan sebagai orang yang tak mudah silau dengan kehidupan duniawi. Sikap dan perilakunya berorientasi akhirat. Sebagaimana dikatakan Al-Qur’an:

 وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٌ۬ وَلَهۡوٌ۬‌ وَلَلدَّارُ ٱلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ۬ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ‌ۗ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Q.S. al-An'am: 32).

Dengan kriteria takwa yang demikian, kita bisa mulai menata niat dari sekarang untuk menempuh perjalanan ibadah puasa dengan kualitas yang tinggi. Kualitas tersebut diraih manakala seorang yang menjalankan ibadah Ramadlan fokus dan bertekad kuat sampai pada tujuan akhirnya: takwa. Niat dan tekad tentu lebih dari sekadar urusan fisik, melainkan batin yang kadang susah ditaklukkan karena harus bermusuhan dengan diri sendiri, nafsu atau ego sendiri. Semoga kita bisa melewatinya dengan kuat dan istiqamah.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


Khuthbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

***
Silahkan anda bagikan atau sebarluaskan khuthbah ini yang membahas seputar amaliah di Bulan Ramadlan.
Deskripsi Abstrak:
Khuthbah Bulan Ramadlan Dengan Tema "Apa yang Sudah Kita Persiapkan untuk Ramadlan?" Khuthbah Jum'at Untuk Dibacakan Pada Bulan Ramadlan Dengan Topik "Apa yang Sudah Kita Persiapkan untuk Ramadlan?"
Mohon sertakan link jika anda menyebarluaskan pos ini. dan saya ucapkan terima kasih banyak atas perhatian anda. Wassalam.

Saat NU Hanya Sebagai Kedok dan Kendaraan Politik CR Ramadlan NU

Ramadlan NU :::  Saat NU Hanya Sebagai Kedok dan Kendaraan Politik CR Ramadlan NU
Kemunduran NU dan turunnya kemuliaan NU memang sangat drastis dengan keadaannya NU yang selalu di bawa ke politik, dan hal ini bukan hanya sekarang saja, semenjak zaman gusdur sudah begitu adanya dan itulah awalnya NU tidak karuan dan pecahnya para tokoh NU karena ada unsur kesengajaan membawa NU ke politik dan kepentingan kekuasaan personal.

Bukan NU jika tidak dukung PKB.
Ya, ini Jargor mereka para pembelah NU yang cikal bakal membuat NU terus terpecah dan terbelah, hingga saat ini pengurus NU hanya menikmati kedudukan mereka sendiri tanpa berupaya mempersatukan tokoh NU dan warga NU.

NU seharusnya lebih fokus kepada masalah agama dan masyarakat jangan sampai isinya hanya mengenai partai dan politik praktis yang faktanya sekarang ini tidak bisa diredam lagi.
Lebih parahnya lagi ada ujaran jika tidak mendukung PKB dan Jokowi tidak masuk SURGA!!!
Wow...!!! sudah habiskah akal dan dalih dalam otak mereka?!
Orang bodohpun tahu bahwasanya pernyataan seperti itu hanyalah omong kosong orang munafik dan penggila harta yang berkedok agama.
Coba bagi anda yang sudah termakan oleh ujaran seperti yang sudah saya katakan diatas, terutamanya kamu yang membuat ujaran diatas berdiskusi sehat dengan saya di kolom komentar jika memang kamu bicara dengan dasar islam!.

Sumber: Mauidhah Hasanah KH. M.Thaha

Pengertian Komoditas CR Bulan Ramadlan

Ramadlan NU ::: Pengertian Komoditas CR Bulan Ramadlan
Arti atau makna Komoditas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

 Komoditas:
1 barang dagangan utama; benda niaga:
hasil bumi dan kerajinan setempat dapat dimanfaatkan sebagai Komoditas ekspor.
2 bahan mentah yang dapat digolongkan menurut mutunya sesuai dengan standar perdagangan internasional, misalnya gandum, karet, kopi.

 Kadang-kadang kata Komoditas digunakan kepada hal yang tidak berbau perdagangan sama sekali dan juga tidak terkait dengan bisnis.

Kadang-kadang kata Komoditas juga digunakan untuk hal yang dianalogikan perdagangan karena ada kesamaan dalam unsur atau fakta, atau tercium aroma perdagangan di dalamnya.

Netizen Ahlus Sunnah Merindukan Ustadz Idrus Romli CR Bulan Ramadlan

Ramadlan NU ::: Netizen Ahlus Sunnah Merindukan Ustadz Idrus Romli CR Bulan Ramadlan
Memang Ustadz Idrus Romli sekarang ini seakan akan ditelan bumi, saya sendiri sudah tidak pernah membaca dialog anggota forum yang menggunakan tulisan Ustadz Idrus Romli, hanya di facebook saja kita sekarang bisa melihat tulisan beliau, itupun saya sudah lama tidak buka facebook lagi. dan kemarin saya juga pernah ditanyakan kabar Ustadz Idrus Romli saat kami berbincang bincang di WA dengan para blogger Ahlus Sunnah Wal Jamaah, katanya banyak sekali yang mengunjungi website Ustadz Idrus Romli namun ternyata sudah tidak ada.

Intinya sebenarnya banyak sekali yang merindukan Ustadz Idrum Romli kembali aktif di dunia maya akan tetapi bukan facebook karena kaum Wahabi dan Liberal sampai saat ini masih aktif dengan website mereka dan sedangkan dari pihak Ahlus Sunnah Wal Jamaah sudah banyak sekali yang aktif lagi. Hal ini kemunduran bagi Netizen Ahlus Sunnah Wal Jamaah terutama dalam bertabligh di dunia maya.

Dan saya juga berharap dan sangat berharap semoga saja tulisan saya juga bisa dibaca oleh Ustadz Idrus Romli sendiri, dan semoga beliau mendapatkan tambahan hidayah dari Allah Aamiin..